CATCALLING PADA WANITA SEBUAH PELECEHAN SEKSUAL ATAU HANYA SEBUAH LELUCON? (Studi Kasus)

Authors

  • Dewani Dama Shinta UNIVERSITAS SURABAYA
  • Taufik Akbar Rizqi Yunanto Universitas Surabaya

DOI:

https://doi.org/10.26486/psikologi.v24i1.1682

Keywords:

Catcalling, Sexual Harassment, Catcalling Behavior

Abstract

Catcalling adalah tindakan bersiul, berteriak, menyapa, bahkan komentar yang menggoda dan tidak enak didengar dan menimbulkan perasaan tidak nyaman tersebut. Fenomena peningkatan Catcalling memberikan kesadaran bahwa hal ini berdampak negatif pada seseorang atau penerima. Penerima merasa bahwa Catcalling bukanlah pujian, melainkan komentar yang tidak pantas dan bersifat seksual atau bernada berlebihan. Sehingga fenomena tersebut memiliki fenomena yang sangat menarik untuk diteliti. Seorang wanita yang menerima perilaku Catcalling ini, memiliki perasaan apapun yang muncul. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif. Studi kasus diartikan sebagai pendekatan penelitian yang mengeksplorasi suatu fenomena dalam konteksnya dengan menggunakan data dari berbagai sumber. Dalam penelitian ini, partisipan yang dipilih adalah wanita yang pernah mengalami perilaku Catcalling dengan rentang usia 20-30 tahun. Penelitian ini memilih satu partisipan yang tidak jauh dari lokasi perilaku Catcalling. Metode pengumpulan data penelitian ini menggunakan wawancara dan observasi. Seorang wanita yang menerima perilaku Catcalling ini, memiliki perasaan apapun yang muncul. Sangat berpengaruh dalam hidupnya atau mengganggu aktivitasnya. Seorang perempuan yang menerima perilaku catcalling ini, memiliki perasaan apa saja yang muncul. Apakah sangat berpengaruh dalam kehidupannya atau mengganggu aktivitasnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah perilaku Catcalling ini berpengaruh positif atau negatif dan berdampak pada penerimanya. Catcalling melibatkan komunikasi verbal dan non-verbal antara orang asing, biasanya pria ke wanita, seringkali tentang penampilan penerima. Motivasi untuk catcall dimulai dari rasa bosan dan keterikatan pria hingga keinginan untuk membuat marah dan mempermalukan wanita. Kasus ini tidak sembarangan atau dianggap wajar karena sangat erat kaitannya dengan kehidupan Subjek sebagai penerima Catcalling. Dampak dari perilaku tersebut dapat berupa tingkat stres yang cukup tinggi.

References

Ainurrohman, Salsabila. (2019, January 31). Fakta Psikologis tentang Fenomena Cat Calling. Ibunda. https://www.ibunda.id/kata-bunda/fakta-psikologis-tentang-fenomena-cat-calling

Ardina, Ika. (2017, October 8). “Catcalling†adalah pelecehan, bukan samata canda. Beritagar. https://beritagar.id/artikel/gaya-hidup/catcalling-adalah-pelecehan-bukan-semata-canda

Febrinastri, Fabiola. (2019, January 23). Inilah Catcalling, Musuh Semua Perempuan!. Suara. https://www.suara.com/yoursay/2019/01/23/153000/inilah-catcalling-musuh-semua-perempuan

Gennaro, Kristen di., & Ritschel, Chelsea.(2019). “Blurred lines: the relationship between catcalls and complimentsâ€. Women’s Studies International Forum. Vol. 75. 01-09

Gharib, Malaka. (2017, June 15). Why Do Men Harass Women? New Study Sheds Light On Motivations. Npr. https://www.npr.org/sections/goatsandsoda/2017/06/15/532977361/why-do-men-harass-women-new-study-sheds-light-on-motivations

Kissling, E. A. (1991). Street Harassment: The Language of Sexual Terrorism (pp. 451–460). Discourse & Society. https://doi.org/doi: 10.1177/0957926591002004006

Moleong, Lexy.J.(2013). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

O ’leary, C. (2016). Catcalling as a “Double Edged Swordâ€: Midwestern Women, Their Experiences, and the Implications of Men’ s Catcalling Behaviors. http://ir.library.illinoisstate.edu/etd

Purba, Religius P. (2017, April 19). Fenomena Catcall, Perempuan Bukan Objek Lelucon!. Kompasiana. https://www.kompasiana.com/religiusperdana/58f63406d47a61663511efe5/fenomena-catcall-perempuan-bukan-objek-lelucon?page=all

Sarosa, Samiaji.(2012). Penelitian Kualitatif: Dasar-dasar. Jakarta: PT Indeks

Shafer, A., Ortiz, R. R., Thompson, B., & Huemmer, J. (2018). The Role of Hypermasculinity, Token Resistance, Rape Myth, and Assertive Sexual Consent Communication Among College Men. Journal of Adolescent Health, 62(3), S44–S50. https://doi.org/10.1016/j.jadohealth.2017.10.015

Triwijati, N. K. E. (2015). Pelecehan Seksual : Tinjauan Psikologis. Masyarakat, Kebudayaan Dan Politik, 20(4), 303–306.

Wahyuni, H. (2016). Faktor Resiko Gangguan Stress Pasca Trauma Pada Anak Korban Pelecehan Seksual. Khazanah Pendidikan, Jurnal Ilmiah Kependidikan, 10(1), 13. https://repositorio.ufsc.br/bitstream/handle/123456789/186602/PPAU0156-D.pdf?sequence=-1&isAllowed=y%0Ahttp://journal.stainkudus.ac.id/index.php/equilibrium/article/view/1268/1127%0Ahttp://www.scielo.br/pdf/rae/v45n1/v45n1a08%0Ahttp://dx.doi.org/10.1016/j

Downloads

Published

2026-06-24

How to Cite

CATCALLING PADA WANITA SEBUAH PELECEHAN SEKSUAL ATAU HANYA SEBUAH LELUCON? (Studi Kasus). (2026). Insight: Jurnal Ilmiah Psikologi, 24(1), 1-10. https://doi.org/10.26486/psikologi.v24i1.1682

Similar Articles

11-20 of 27

You may also start an advanced similarity search for this article.