ALAT BANTU DENGAR SEBAGAI MEDIA PENUNJANG PEMBELAJARAN KOMUNIKASI BICARA PADA SISWA–SISWI TUNARUNGU DI SEKOLAH LUAR BIASA (SLB) NEGERI BALIKPAPAN DAN SEKOLAH LUAR BIASA (SLB) TUNAS BANGSA BALIKPAPAN

Mikail Eko Prasetyo Widagda, Suhaedi Suhaedi, La Adesfar, Nur Wahyudi, Muhammad Reza Vahlevi

Abstract


Sistem indera yang diperlukan untuk mendengar adalah telinga. Telinga merupakan organ yang mampu untuk mengenali suara. Jika telinga tidak normal dalam menerima rangsangan bunyi, maka dapat dikatakan bahwa telinga mengalami gangguan pendengaran. Gangguan pendengaran ada yang berasal dari lahir (bawaan lahir) dan ada yang berasal setelah dewasa. Menurut teori, gangguan pendengaran dapat disebabkan oleh gangguan hantaran suara melalui udara dan tulang (yang disebut tuli hantaran atau tuli konduktif); gangguan hantaran suara melalui saraf (yang disebut tuli saraf atau tuli sensorineural); dan ada pula gangguan pendengaran yang bersifat campuran antara tuli hantaran dan tuli saraf yang disebut tuli campur. Tuli yang berasal dari lahir kemungkinan akan menyebabkan orang tersebut tidak dapat mendengar dan berbicara, sehingga orang tersebut dikatakan Tunarungu. Oleh sebab itu dibuatlah Alat Bantu Dengar (ABD) sebagai media penunjang pembelajaran komunikasi bicara pada siswa – siswi tunarungu di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Balikpapan dan di Sekolah Luar Biasa (SLB) Tunas Bangsa Balikpapan.


Keywords


Tunarungu, Alat Bantu Dengar, Gangguan Pendengaran, Desibel

Full Text:

PDF

References


Denara Husna Afiati (2017). Pelaksanaan Bina Wicara Pada Anak Tunarungu Di SLB Negeri 2 Bantul. Tugas Akhir Skripsi, Program Studi Pendidikan Luar Biasa, Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Yogyakarta, 1-141.

Dyah Ayu Krisnawati (2015). Pelaksanaan Pembelajaran Bina Komunikasi Persepsi Bunyi Dan Irama (BKPBI) Pada Kelas Taman 1 Di Slb B Karnnamanohara Yogyakarta. Skripsi, Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Pendidikan, Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan. Universitas Negeri Yogyakarta, 1-97.

Endang Susilowati (2013). Pengaruh Pembelajaran Bina Persepsi Bunyi Dan Irama Terhadap Perkembangan Kemandirian Komunikasi Anak Tuna Rungu Di Sdlb B Ypplb Ngawi. Naskah Publikasi, Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Sarjana Kedokteran, Fakultas Kedokteran. Universitas Muhammadiyah Surakarta, 4-16.

Patricia A.HeineDVM, PhD. (2004). Anatomy of The Ear. Volume 34, Issue 2, March 2004, 11111 Echo Grove Lane, Indianapolis, IN 46236, USA, pp. 379-395.

Perhimpunan Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorok, Bedah Kepala Leher Cabang Kalimantan (2005). Mengenal Gangguan Telinga Hidung Tenggorok dan Ketulian. Seminar Untuk Umum. PT. Alat Bantu Dengar Indonesia, Balikpapan, 2-4.

Peter W Alberti (2006). 2 The Anatomy And Physiology Of The Ear And Hearing. Medicine. Visiting Professor University of Singapore, Department of Otolaryngology, Singapore, pp. 53-62.

Puguh Setyo Nugroho, HMS Wiyadi (2009). Anatomi Dan Fisiologi Pendengaran Perifer. Jurnal THT-KL.Vol.2,No.2, Mei – Agustus 2009, Dep/SMF Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok. Bedah Kepala dan Leher, Fakultas Kedokteran. Universitas Airlangga/RSUD Dr. Soetomo Surabaya, 76-85.

Reiza Farandika Kurniawan S.Ked. (2014). Buku Pintar Anatomi Tubuh Manusia. Vicosta Publishing, PT. Mahadaya, Depok, 33-36.

Setiadi Budiyono dr (2012). Anatomi Tubuh Manusia. Laskar Aksara, Bekasi, 35-36.

Sumalai Maroonroge, Diana C Emanuel, Tomasz R Letowski (2009). Basic Anatomy of The Hearing System, pp. 279-306.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.