MENAKAR KUALITAS PUBLIC SPHERE DI TENGAH BENANG KUSUT SISTEM MEDIA INDONESIA

Abdul Wahid

Abstract


AbstrakIdealisme dan independensi jurnalis seringkali terkikis akibat konglomerasi dan arah kebijakan redaksi yang mendukung pemilik media. Jurnalis sebagai observer tingkat pertama dapat membingkai realitas melalui pemilihan kata, angle, dan hal teknis lain sesuai cara kerja media pada umumnya. Kejelian ini tentu saja harus dibarengi dengan idealisme penerapan jurnalisme yang selalu menempatkan publik dalam setiap liputannya. Benang merah tulisan ini berfokus pada pembacaan terhadap kualitas public sphere ditengah silang sengkarut sistem media di Indonesia. Tulisan merupakan tulisan yang berdimensi kajian literatur melalui perspektif kritis dengan pendekatan kualitatif interpretif. Kerangka teori dalam tulisan ini menggunakan Niclas Luhmann tentang autopetic dan Jurgen Habermas tentang Public Sphere. Simpulan dari kajian literatur ini yaitu: Pertama, Kerumitan sistem media secara langsung berpengaruh pada kualitas informasi. Kedua, Konglomerasi dan afiliasi politik pemilik media secara langsung memengaruhi kinerja jurnalis untuk menghasilkan output kepada masyarakat. Selain penyempitan sudut pandang, masyarakat hanya akan disajikan wacana sesuai dengan siapa penguasa media. Ketiga, Kesalingterkaitan antara self-reference dan otherreference yang disampaikan Luhmann menjadi utopis jika melihat praktik yang dijalankan sistem media.

Full Text:

PDF

StatisticsArticle Statistic

This article has been read : 216 times
PDF file viewed : 164 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.